Pasar Hewan di Sumenep Dibiarkan 2 Tahun Mangkrak

Pasar hewan terpadu yang terletak di Desa Pakandangan Sangrah, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Madura yang dibangun sejak tahun 2014 lalu, ternyata hingga kini masih terbengkalai alias mangkrak.

Baca Juga: kusen jendela aluminium  

Bahkan pasar hewan yang dibangun menghabiskan dana sekitar Rp 1 miliar tersebut keberadaannya sangat memperihatinkan. Sebagian bangunan los sudah banyak yang roboh, bahkan ada sebagian alat-alat bangunan seperti kayu kusen sudah ludes dicuri orang.

Artikel Terkait: engsel jendela 

Ironisnya lagi, pedagang dan penjual hewan ternah menolak menempati pasar hewan ternak terpadu karena jauh dari kota. Mereka kini justru memilih menggelar jual beli hewan ternak di tanah lapang bekas Pasar Burung, di Desa Pamolokan Barat, utara Kota Sumenep.

Kepala Desa Pekandangan Sangrah, Sukandar, kepada Surya menuturkan, sejak dibangun mulai tahun 2014 lalu, pasar yang dibangun diatas tanah seluas 2,1 hektar itu dan selesai tahun 2016, hanya ditempati sekitar 5 bulan.

Setelah itu para pedagang sapi dan masyarakat penjual sapi lebih memilih menggelar dagangannya di bekas pasar burung di Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep, tidak jauh dari lokasi pasar Bangkal, pasar sapi lama yang telah dibongkar.

“Memang pasar hewan terpadu ini sempat ditempati. Namun tidak lama kemudian para pedagang sapi berkurang dan terus berkurang hingga akhirnya semua kabur,” ujar Kades Sukandar, Selasa (18/9/2018).

Dikatakan, sejak ditinggal pedagang sapi, praktis sampai akhir tahun 2018 ini lokasi pasar beserta beberapa kios yang tersedia kosong melompong. Padahal tahun 2017 lalu, di lokasi pasar hewan terpadu itu masih ditambah bangunan musholla sebagai kelengkapan fasilitas pasar.

“Tapi musholla belum ditempati, pedagang dan masyarakat penjual sapi serta hewan ternak lainnya jusrru sudah tidak ada lagi,” imbuh Kades Sukandar.

Pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi pasar hewan terpadu yang terletak di wilayahnya. Apalagi bangunan yang sebelumnya ditangani Dinas Pertenakan sekarang sudah diserahkan ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

Wakil Bupati Sumenep, Achmad Fauzi mengatakan akan mengaku tetap berusaha memanfaatkan pasar hewan terpadu yang sudah mulai ditinggal penghuninya.

Pihaknya masih tetap yakin nanti pedagang sapi dan hewan ternak lainnya masih bisa dibujuk kembali ke pasar baru yang dibangun melalui dana APBN dan APBD Sumenep mulai tahun 2014 hingga 2016 lalu.

“Kita masih berkoordinasi dengan semua pihak, baik Dinas Peternakan dan Dinas Perdagangan dan Perindustrian serta para peguyuban pedagang sapi dan ternak di Sumenep,” tegas Wabup Fauzi beberapawaktu lalu.

Terkait dengan lokasi pasar hewan ilegal di bekas pasar burung di Desa Pamolokan, wabup berjanji akan segera berkoordinasi dengan Satpol PP. Karena keberadaannya ilegal dan banyak dikeluhkan warga karena lokasinya berdekatan dengan rumah-rumah penduduk. “Kita segera selesaikan itu, agar lokasi pasar ilegal tersebut tidak justru menimbulkan persoalan baru,” pungkas Fauzi.

Sebagaimana diberitakan Surya sebelumnya, pasar hewan atau ternak terpadu dibangun oleh Dinas Peternakan Sumenep. Kemudian dilimpahkan ke Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD), Terakhir pengelolaannya diserahkan ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan ( Disperindag ).

Biaya pembangunan pasar hewan terpadu bersumber dari APBN tahun 2014 senilai Rp 1, 39 Milyar, lalu dilanjutkan pembangunannya tahun 2015 dari APBN sebesar Rp 600 juta, lalu dilanjutkan dianggarkan lagi tahun 2016 sebesar Rp 400 juta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s